Insan
Kamil Al Jili
Terjemah Kitab Insan Kamil Karya Syeikh Abdul Karim ibnu Ibrahim Al Jaili
Insan Kamil dengan menjadikan "manusia" (mikro - kosmos) sebagai
fokus kajian, utamanya Rasulullah Muhammad SAW sebagai inti pembahasan dan icon
kesempurnaan - karya "Insan Kamil fi Ma'rifah al Awahir wa al Awa'il"
ini adalah lmerupakan buah pemikiran asy Syeikh Abdul Karim Ibnu Ibrahim al
Jaili, seorang cerdik cendekia muslim agung kelahiran al Jailan distrik di kota
Baghdad (Irak). Yang hidup antara Tahun 767 H - 832 H atau Tahun 1366 M - 1430
M. Al Jaili merupakan anak keturunan keluarga sufi agung Syaikh Abdul Qodir al
Jailani.
Al Jaili mengistilahkan citra global dengan 'alam kabir' (makro - kosmos)
sedang manusia disebut 'alam shaghir' (mikro -kosmos). Dengan demikian
sejatinya "manusia sempurna" adalah cerminan manifestasi al Haq pada
Maujudaat (segala wujud) dan insan kamil itulah sejatinya citra lahir al Haq di
alam realitas ini. Untuk mema'rifahi hakekat segala sesuatu itu menurut al
Jaili hanya bisa dilakukan dengan jalan mukasyafah (pengetahuan intuitif),
bukan dengan logika.
Al Jaili membagi wujud dengan wujud murni, yaitu inti (dzat) Allah Jallah
jalaalah, dan wujud mulhaq bil Adam (suplemen dari ketiadaan) yaitu inti
(dzat)-Nya ghoib ai ghoib (gaib dalam kegaiban). Tidak bisa dilihat dengan mata
kasat, dinalar logika, dijangkau daya persepsi, namun bisa dilihat melalui
tajalli-Nya pada segenap maujudaat (segala wujud), sedangkan untuk mengetahui
hakekat ma'rifatnya hanya dengan pengetahuan intuitif (kasyf). untuk informasi lebih detail, silakan berkunjung di galeribukucom
Kamis, 22 Februari 2018
Rabu, 25 Oktober 2017
Menyatu Diri dengan Ilahi
| Penulis KH. Muhammad Sholikhin |
Banyak karya-karya al-Jailani mempengaruhi konsep filsafat Syekh Siti Jenar, antara lain: Sirr al-Asrar dan Futuh al-Ghaib. Di mana, Syekh Siti Jenar kemudian menformulasikannya dalam konsep ajaran Manunggaling Kawula-Gusti—yang hingga saat ini masih kontroversi. Pada dua karya tersebut, al-Jailani menceritakan pengalaman spiritualnya yang puncak ekstasenya sampai pada tahapan haqiqat al-haqa iq, liqa illah (menyatu diri dengan Allah).
Lantas, bagaimana konsep menyatu diri dengan Ilahi ala Syaikh Abd al-Qadir al-Jailani? Siapa sosok ulama besar itu sesungguhnya?
Senin, 21 Agustus 2017
Quantum Qalbu 2 (Qutul Qulub)
Quantum Qalbu
buku ini nerupakan terjemahan Qutul Qulub karya Abu Thalib Al Makky
buku ini nerupakan terjemahan Qutul Qulub karya Abu Thalib Al Makky
Buku Kedua antara lain tentang: Kedudukan orang-orang yakin; lintasan hati;
ahli hati, dan sifat hati; ragam ilmu dan keutamaannya; tentang ilmu makrifat;
ilmu batin dan ilmu lahir; keutamaan ilmu iman dan ilmu yakin dibanding ilmu
yang lain; dan tentang hakikat zuhud.
Rasulullah saw. Bersabda: “Barangsiapa
yang ingin mengetahui kedudukannya di hadapan Allah, hendaklah ia melihat
bagaimana kedudukan Allah dalam hatinya. Tinggalkan perkara yang mengganggu
hatimu, dan mintalah fatwa kepada hatimu, walaupun banyak orang yang memberikan
fatwa!”
Maka siapkan hati anda! Jangan abaikan.
Beri makan ia dengan makanan bergizi. Jangan biarkan ia hanya menjadi segumpal
daging. Hiasi dengan keindahan amal, ilmu dan makrifatullah. Anda perlu
membacanya sebagai nutrisi untuk hati. Karena makanan jiwa adalah ilmu. Dan jika
amal ini dilakukan dengan ikhlas dan hati-hati, niscaya akan terbukalah
pintu-pintu makrifat dan ilmu, dan hati akan disinari oleh Allah SWT.
Sekali lagi, inilah buku yang
disebut-sebut dan diyakini bahkan oleh Al-ghazali sendiri sebagai sumber
inspirasi dan bahan utama dalam menulis Kitab Ihya Ulumuddin yang terkenal itu.
Muhammad bin ali bin
Athiyyah Al-Haritsi al-Makki, yang dikenal dengan Abu Thalib al-Makki, lahir di
Makkah. Disana ia belajar kepada beberapa orang guru di bidang hadis dan ilmu
tarekat, kemudian ia pindah ke bashrah, lalu ke Baghdad dan wafat disana pada
386H. Ia adalah seorang ulama yang banyak melakukan riyadhah (olah batin) dan
mujahadah. Kono, selama bertahun-tahun ia tidak mengonsumsi makanan selain
sayuran yang ditanamnya sendiri, sehingga kulitnya memucat.
Quantum Qalbu 1 (Qutul Qulub)
Quantum Qalbu (terjemahan qutul qulub)
Abu Thalib al Makki
Buku Pertama antara lain berisi: Ayat-ayat Alquran tentang orang salih; tata cara wirid; amalan siang
dan malam; zikir dan doa setelah subuh; shalat sunnah fajar; keutamaan shalat
siang dan malam hari; shalat witir dan keutamaan shalat malam; waktu-waktu mustajab
dan shalat tasbih, tentang Alquran; seluk beluk shalat jumat; tentang puasa.
Rasulullah saw. Bersabda : “Barangsiapa yang ingin
mengetahui kedudukannya di hadapan Allah, hendaklah ia melihat bagaimana
kedudukan Allah dalam hatinya. Tinggalkan perkara yang mengganggu hatimu, dan
minta fatwalah kepada hatimu, walaupun banyak orang yang memberikan fatwa!”
Buku yang ada di tangan pembaca ini adalah karya terbesar
dalam tasawuf yang-menurut seorang orientalis Jerman, Brockelmann- dipandang
sebagai sumber utama yang digunakan Al-Ghazali dalam menulis kitab Ihya ‘Ulumiddin. Al-Ghazali, dalam
bukunya Al-Munqidz Min adh-Dhalal,
memberikan pernyataan yang mengakui hal ini. Buku ini merupakan kitab yang amat
terkenal di kalangan para ulama dan memperoleh perhatian besar dari mereka, dan
juga telah mengilhami banyak karya lain yang ditulis setelahnya. Anda wajib membaca
sumber inspirasi Al-Ghazali ini sebagai nutrisi untuk hati.
Buku yang ada di tangan pembaca ini adalah satu-satunya
terjemahan kitab tersebut dalam bahasa Indonesia!
Muhammad bin ali bin
Athiyyah Al-Haritsi al-Makki, yang dikenal dengan Abu Thalib al-Makki, lahir di
Makkah. Disana ia belajar kepada beberapa orang guru di bidang hadis dan ilmu
tarekat, kemudian ia pindah ke bashrah, lalu ke Baghdad dan wafat disana pada
386H. Ia adalah seorang ulama yang banyak melakukan riyadhah (olah batin) dan
mujahadah. Kono, selama bertahun-tahun ia tidak mengonsumsi makanan selain
sayuran yang ditanamnya sendiri, sehingga kulitnya memucat.
Rabu, 14 Juni 2017
Tragedi Setan
Buku ini membahas peranan Iblis dalam sudut pandang psikologi sufi.
Sebagaimana yang diperlihatkan oleh buku PETER AWN, Iblis akan terus
menggoda atau setidak-tidaknya mengganggu manusia sehingga – sebagaimana
Iqbal kemukakan setelah Goethe)- akan membentuk kegelisahan dalam hidup
manusia yang tanpa itu perkembangan spiritual yang sebenarnya tidaklah
akan terjadi. Iblis mampu membuat manusia menyadari beberapa tingkat
pengalaman yang lebih dalam dan pada saat yang sama memberi suatu
pandangan baru ke dalam masalah internal dari teologi dan juga sejarah
agama, yaitu bagaimana menjelaskan peranan setan dan bagaimana
menanggulanginya.
Penulis : Peter J.Awn
Penerbit : Optimus
Penulis : Peter J.Awn
Penerbit : Optimus
Rabu, 26 April 2017
Awarif al Ma'arif (Puncak Pengetahuan Ahli Makrifat)
Awarif al Ma'arif (Puncak Pengetahuan Ahli Makrifat)
Penulis Syaikh Syihabuddin 'Umar SUHRAWARDI
Dalam periode tertentu sejarah islam, tasawuf pernah dituding sebagai salah satu penyebab kemunduran kaum muslim dalam berbagai bidang. Kemudian, dalam sebuah bidang kajian islam, tasawuf juga lebih sering disalahpahami ketimbang diapresiasi secara objektif dan profesional. Akhirnya, lahirlah berbagai silang pendapat yang mempersoalkan validitas dan otentisitas tasawuf. Padahal seperti dijelaskan Syyed Hosein Nasr, seorang pakar tasawuf kontemporer, secara bisa dijelaskan dengan ringkas bahwa esnsi tasawuf sesungguhnya adalah upaya untuk meneladani akhlak dan kehidupan Nabi Muhammad serta bertujuan meraih; pengetahuan hakiki (ma'rifah) tentang pesan ajaran sentral islam, yakni Kemahaesaan Allah ( Tawhid).
Karenanya dalam konteks ini, diperlukan pemahaman simpatik dan apresiatif tentang tasawuf yang benar-benar berasal dari berbagai sumber otentik. Untuk menyahuti imbauan dan memenuhi kebutuhan akan pemahaman seperti itu, relevansi kehadiran buku ini terasa amat penting artinya. Buku ini adalah sebuah terjemahan dari kitab tasawuf klasik terkenal karya seorang syaikh dan tokoh sufi terkemuka, Syihabuddin Umar ibn Muhammad Suhrawardi. Berbagai konsep dan pengertian dalam dunia tasawuf dibahas secara terinci dan dijelaskan langsung dari sumber dan otoritas tangan pertamadi bidangnya. Tidak berlebihan kiranya kalau buku ini disebut-sebut sebagai salah satu buku daras (text book ) klasik terbaik tentang tasawuf di dalam literatur islam.
Langganan:
Postingan (Atom)





